Review Film Amour. Di akhir 2025, ketika banyak orang mulai membicarakan lagi soal penuaan dan makna kebersamaan, Amour (2012) karya Michael Haneke kembali muncul di rekomendasi malam minggu dan daftar “film yang harus ditonton sebelum tua”. Film Prancis berdurasi dua jam yang terasa seperti menit-menit terakhir kehidupan ini, kini semakin sering disebut sebagai salah satu karya paling jujur, kejam, sekaligus penuh kasih yang pernah ada tentang cinta di usia senja. Tanpa musik latar dramatis, tanpa close-up air mata berlebihan, hanya dua aktor legendaris dan satu apartemen tua di Paris. BERITA TERKINI
Dua Manusia dalam Satu Ruangan: Review Film Amour
Emmanuelle Riva dan Jean-Louis Trintignant memerankan Anne dan Georges, pasangan pensiunan guru musik yang sudah puluhan tahun bersama. Setelah Anne terkena stroke pertama, lalu kedua, hidup mereka yang tadinya tenang berubah jadi penjara sekaligus tempat perlindungan terakhir. Riva, yang saat syuting sudah berusia 84 tahun, memainkan penurunan fisik dan mental dengan ketepatan yang mengerikan; dari langkah yang mulai goyah sampai kata-kata yang perlahan hilang. Trintignant, dengan mata yang selalu basah tapi hampir tak pernah menangis, membawa beban perawatan yang tak pernah diucapkan. Kimia mereka bukan lagi akting; itu adalah keintiman nyata yang membuat penonton merasa mengganggu privasi orang lain.
Keberanian Menatap Realitas: Review Film Amour
Haneke tidak pernah memberikan keringanan. Kita melihat segalanya: popok dewasa yang diganti, makanan yang dimuntahkan, jeritan kecil di tengah malam, buku-buku piano yang tak lagi dibuka. Tidak ada anak atau cucu yang datang membawa harapan palsu; hanya sesekali putri mereka (Isabelle Huppert) muncul, panik tapi tak berdaya. Film ini memotret proses menua dan sakit sebagai sesuatu yang biasa, membosankan, dan sekaligus luar biasa menyakitkan. Haneke seperti berkata: inilah yang menanti hampir semua orang, dan cinta sejati bukan tentang janji abadi, tapi tentang mau tetap tinggal saat semuanya sudah runtuh.
Ruang dan Waktu yang Menekan
Apartemen besar bergaya klasik Paris menjadi karakter ketiga. Setiap koridor panjang, setiap jendela tinggi, setiap pintu yang tertutup perlahan memperkuat rasa terkurung. Haneke memakai long take yang berani; ada adegan berdurasi nyaris sepuluh menit hanya Georges membantu Anne dari kursi roda ke tempat tidur, tanpa potongan, tanpa musik. Suara faucet menetes atau burung merpati yang masuk lewat jendela jadi satu-satunya pengiring. Warna dinding yang mulai menguning dan cahaya sore yang semakin redup seolah ikut menua bersama penghuninya. Hasilnya, penonton merasa sesak napas meski tidak ada satu adegan kekerasan pun sampai akhir.
Dampak yang Tak Pernah Hilang
Tiga belas tahun setelah meraih penghargaan tertinggi di Cannes dan Oscar, Amour tetap jadi film yang jarang direkomendasikan sembarangan, karena terlalu berat untuk ditonton sendirian. Namun semakin tua penontonnya, semakin dalam film ini menusuk. Banyak yang bilang baru benar-benar memahami film ini setelah merawat orang tua atau pasangan yang sakit. Ia tidak menghibur, tidak memberi harapan manis, tapi justru karena itulah ia terasa sangat manusiawi. Di tahun 2025, ketika orang semakin takut membicarakan kematian, Amour seperti tamparan lembut: cinta yang terbesar seringkali diam, melelahkan, dan berakhir tanpa tepuk tangan.
Kesimpulan
Amour adalah film yang tidak memberi ampun, tapi juga tidak pernah kehilangan kelembutan. Dengan dua penampilan yang akan abadi, keberanian menatap kehampaan, serta ruang yang hidup sendiri, ia membuktikan bahwa cerita cinta paling dalam tidak perlu kata-kata besar. Tontonlah kalau kamu siap menghadapi kenyataan, atau simpanlah untuk suatu hari nanti. Karena cepat atau lambat, kita semua akan berada di apartemen itu, bersama seseorang yang memilih tetap tinggal.