Review Film Hamka & Siti Raham Vol 2: Perjuangan Buya Hamka. Film Hamka & Siti Raham Vol. 2 yang tayang 19 Desember 2024 langsung jadi salah satu karya biografi paling dinanti di Indonesia sepanjang akhir 2024 hingga awal 2026. Disutradarai Fajar Bustomi dan diproduksi MD Pictures, sekuel ini melanjutkan kisah Buya Hamka (diperankan Reza Rahadian) dan istrinya Siti Raham (Luna Maya) setelah Vol. 1, dengan fokus pada perjuangan Buya di masa pendudukan Jepang, revolusi kemerdekaan, hingga pembentukan identitas keagamaan dan nasionalisme yang kuat. Durasi 135 menit ini berhasil menarik lebih dari 5 juta penonton di bioskop dan terus ramai dibahas di platform streaming serta media sosial. Bukan cuma cerita cinta romantis, film ini menyajikan potret perjuangan Buya Hamka sebagai ulama, penulis, pejuang, dan ayah di tengah badai zaman. Review ini mengupas makna utama cerita: perjuangan Buya Hamka sebagai simbol keteguhan iman, keberanian intelektual, dan pengorbanan demi bangsa serta keluarga. BERITA SAHAM
Sinopsis dan Alur yang Mengalir Emosional: Review Film Hamka & Siti Raham Vol 2: Perjuangan Buya Hamka
Vol. 2 dimulai dari masa pendudukan Jepang di Sumatera Barat, di mana Hamka (Reza Rahadian) sudah dikenal sebagai ulama muda yang vokal menentang penjajah. Ia menulis artikel dan ceramah yang kritis, hingga akhirnya ditangkap dan dipenjara oleh Jepang. Setelah kemerdekaan, Hamka terus berjuang melawan berbagai tantangan: konflik politik, tekanan dari kelompok ekstremis, hingga kesulitan ekonomi keluarga. Siti Raham (Luna Maya) tetap menjadi tiang penyangga—mengurus anak-anak, menjaga rumah, dan mendukung suami meski sering khawatir akan keselamatan Hamka. Alur bergerak dengan tempo yang pas—tidak terburu-buru tapi juga tidak lambat—menampilkan momen-momen besar seperti Hamka menulis Tafsir Al-Azhar di penjara, pidato-pidato bersejarah, dan peranannya dalam Masyumi serta Majelis Ulama Indonesia. Puncak emosional ada di bagian akhir ketika Hamka menghadapi ujian terberat: penyakit, pengasingan politik, dan pertanyaan apakah perjuangannya selama ini berarti. Fajar Bustomi berhasil menyeimbangkan antara adegan epik (pidato, demonstrasi, penjara) dengan momen intim keluarga—percakapan malam hari antara Hamka dan Raham, doa bersama anak-anak, dan surat-surat yang penuh cinta dan nasihat.
Kekuatan Sinematik dan Makna Perjuangan Buya Hamka: Review Film Hamka & Siti Raham Vol 2: Perjuangan Buya Hamka
Sinematografi film ini menggunakan warna-warna hangat untuk masa bahagia keluarga dan warna dingin untuk masa penjara serta konflik politik, menciptakan kontras emosional yang kuat. Rekaman lokasi asli di Sumatera Barat dan Jakarta ditambah rekonstruksi masjid serta rumah sederhana Buya Hamka membuat nuansa historis terasa hidup. Tema perjuangan Buya Hamka di sini bukan cuma tentang perlawanan terhadap penjajah atau politik, melainkan tentang keteguhan iman dan integritas di tengah badai zaman. Hamka digambarkan sebagai ulama yang tidak hanya berbicara dari mimbar, tapi juga hidup sesuai apa yang ia dakwahkan—miskin tapi kaya ilmu, berani tapi penuh kasih sayang pada keluarga. Peran Siti Raham sebagai pendamping setia menambah dimensi manusiawi: ia bukan sekadar istri di belakang layar, tapi mitra yang turut menanggung beban perjuangan suami. Reza Rahadian tampil luar biasa sebagai Buya Hamka—ia berhasil menangkap sisi intelektual, emosional, dan spiritual tokoh itu tanpa terlihat berlebihan. Adegan-adegan kunci seperti Hamka menulis di penjara dengan cahaya lilin atau percakapan terakhir dengan Raham menjadi momen paling berkesan karena terasa sangat tulus.
Dampak Budaya dan Relevansi di 2026
Sampai Februari 2026, Hamka & Siti Raham Vol. 2 masih sering disebut sebagai salah satu biografi terbaik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir karena berhasil menghidupkan sosok Buya Hamka tanpa jatuh ke glorifikasi berlebihan. Banyak penonton menggunakan cuplikan dialog seperti “agama itu bukan cuma ibadah, tapi juga perjuangan” atau “cinta itu bukan cuma kata, tapi pengorbanan” sebagai caption di media sosial untuk mengenang nilai-nilai yang dibawa Hamka. Film ini juga membuka diskusi tentang peran ulama dalam sejarah bangsa, pentingnya integritas di tengah politik, dan keteguhan perempuan di balik perjuangan laki-laki. Di era di mana isu identitas keagamaan, nasionalisme, dan keluarga semakin banyak dibahas, pesan film ini terasa semakin relevan: perjuangan Buya Hamka bukan cuma masa lalu, tapi inspirasi untuk tetap teguh pada nilai di tengah zaman yang penuh tantangan.
Kesimpulan
Hamka & Siti Raham Vol. 2 bukan sekadar biografi musisi atau ulama; ia adalah potret hangat dan jujur tentang perjuangan Buya Hamka sebagai manusia yang teguh pada iman, ilmu, dan keluarga di tengah badai zaman. Fajar Bustomi berhasil menyajikan kisah hidup Hamka dengan penuh hormat—tanpa lebay, tapi penuh emosi yang tulus. Di tengah Februari 2026, film ini masih relevan sebagai pengingat bahwa perjuangan sejati bukan tentang kemenangan instan, melainkan ketekunan, pengorbanan, dan warisan yang ditinggalkan bagi generasi berikutnya. Bagi siapa pun yang pernah merasa lelah tapi tetap ingin bertahan demi nilai yang diyakini, film ini terasa seperti surat dari Buya Hamka sendiri: ya, perjalanan itu berat, tapi setiap langkah berarti.