Review Film Aruna & Lidahnya: Petualangan Kuliner Nusantara. Aruna & Lidahnya (2018), film drama-kuliner karya Edwin yang diadaptasi dari novel karya Laksmi Pamuntjak, tetap menjadi salah satu karya Indonesia paling hangat dan sering ditonton ulang hingga awal 2026. Hampir delapan tahun setelah tayang perdana, film ini masih rutin muncul di daftar rekomendasi Netflix Indonesia dan menjadi tontonan favorit bagi pecinta kuliner serta cerita persahabatan. Dibintangi Dian Sastrowardoyo sebagai Aruna, film ini mengisahkan perjalanan empat sahabat—Aruna, Farhan (Abdurrahman Arif), Dika (Oka Antara), dan Karina (Hannah Al Rashid)—yang melakukan road trip kuliner melintasi Jawa untuk mencari resep soto Betawi asli yang hilang. Di balik piring-piring makanan yang menggugah selera, film ini sebenarnya adalah cerita tentang persahabatan lama, pencarian makna hidup, dan bagaimana rasa makanan bisa membangkitkan kenangan serta menyatukan orang-orang yang mulai tercerai-berai. ULAS FILM
Petualangan Kuliner yang Menggugah Selera: Review Film Aruna & Lidahnya: Petualangan Kuliner Nusantara
Cerita dimulai ketika Aruna, seorang ahli gizi yang perfeksionis, mendapat tugas mencari resep soto Betawi asli yang pernah ia nikmati bersama teman-temannya di masa kecil. Ia mengajak Farhan, Dika, dan Karina—tiga sahabat lamanya yang kini punya kehidupan masing-masing—untuk melakukan perjalanan kuliner dari Jakarta ke berbagai kota di Jawa. Perjalanan ini bukan sekadar wisata makan; setiap kota membawa mereka pada hidangan khas yang membangkitkan kenangan dan emosi yang lama terpendam.
Film ini berhasil menampilkan kekayaan kuliner Nusantara dengan indah: soto Betawi, gudeg Jogja, rawon Surabaya, hingga makanan pinggir jalan di berbagai daerah. Setiap adegan makan terasa hidup—close-up piring yang mengepul, uap yang naik, dan ekspresi puas para pemeran membuat penonton ikut lapar. Edwin dengan cerdas menggunakan makanan sebagai pemicu emosi: satu suap bisa membawa kembali kenangan masa kecil, pertengkaran lama, atau rasa rindu yang tak terucapkan.
Karakter dan Dinamika Persahabatan: Review Film Aruna & Lidahnya: Petualangan Kuliner Nusantara
Dian Sastrowardoyo sebagai Aruna memberikan penampilan yang sangat kuat: seorang perempuan yang terlihat sempurna di luar tapi rapuh di dalam, terutama setelah kehilangan ibunya. Ia mewakili tipe perantau kota yang sibuk tapi rindu akar. Abdurrahman Arif sebagai Farhan adalah sahabat yang setia tapi mulai merasa “tertinggal” karena kesibukan Aruna. Oka Antara sebagai Dika membawa humor ringan tapi juga kedalaman emosional sebagai pria yang tampak santai tapi menyimpan luka. Hannah Al Rashid sebagai Karina menambah warna sebagai sahabat yang paling ekspresif dan jujur.
Dinamika keempat sahabat ini terasa sangat autentik: mereka bertengkar seperti saudara, saling ejek, tapi pada akhirnya saling melindungi. Momen-momen kecil seperti makan di warung pinggir jalan atau mengobrol di mobil menjadi yang paling menyentuh—menunjukkan bahwa persahabatan sejati tidak selalu perlu kata-kata besar, tapi cukup dengan kehadiran dan makanan bersama.
Makna Lebih Dalam: Makanan sebagai Jembatan Kenangan
Di balik petualangan kuliner, Aruna & Lidahnya adalah cerita tentang bagaimana makanan menjadi jembatan kenangan dan penyembuh luka. Setiap hidangan yang mereka cicipi bukan hanya soal rasa, melainkan tentang waktu, orang-orang, dan momen yang pernah dibagi bersama. Film ini juga menyentil tema perantauan dan urbanisasi: Aruna dan teman-temannya yang kini hidup di kota besar mulai kehilangan koneksi dengan akar budaya dan keluarga, tapi perjalanan ini membawa mereka kembali ke “rasa” asli yang dulu.
Banyak penonton merasa film ini seperti pengingat bahwa makanan bukan sekadar pengisi perut—ia adalah bahasa cinta, kenangan, dan identitas. Pesan terdalamnya adalah bahwa dalam kehidupan yang semakin cepat dan individualis, “jangan lupa pulang” tidak selalu tentang tempat, melainkan tentang rasa dan orang-orang yang membuat kita merasa utuh.
Kesimpulan
Aruna & Lidahnya adalah film yang langka: indah sekaligus sangat hangat, ringan tapi penuh makna, dan menggugah selera tanpa terasa berlebihan. Kekuatan utamanya terletak pada potret persahabatan remaja yang autentik, penampilan Dian Sastrowardoyo dan kawan-kawan yang natural, serta pesan bahwa makanan adalah jembatan kenangan dan penyembuh luka. Film ini berhasil menjadi cermin bagi banyak perantau yang merasa jauh dari “rasa” rumah. Di tengah banjir film drama berat, Aruna & Lidahnya menawarkan kehangatan dan kejujuran yang menyegarkan. Jika kamu sedang rindu kampung halaman atau sekadar ingin menikmati cerita kuliner yang menyentuh, film ini sangat direkomendasikan. Aruna & Lidahnya bukan sekadar film tentang makanan; ia adalah surat cinta kepada persahabatan, kenangan, dan rasa Nusantara yang tak pernah pudar. Dan itu, pada akhirnya, adalah makna paling indah dari sebuah film.