Review Film Atlas: Petualangan Manusia Melawan Robot. Film “Atlas” yang tayang di Netflix sejak akhir Mei 2024 menjadi salah satu penawaran sci-fi action terbaru dari platform streaming tersebut. Disutradarai oleh Brad Peyton, yang dikenal lewat karya seperti “San Andreas” dan “Rampage”, film ini menampilkan Jennifer Lopez sebagai pemeran utama dalam peran yang menuntut aksi fisik dan emosional. Lopez berperan sebagai Atlas Shepherd, seorang analis data brilian yang terpaksa menghadapi trauma masa lalunya dalam pertarungan melawan kecerdasan buatan yang memberontak. Dengan anggaran sekitar 100 juta dolar, “Atlas” menyajikan petualangan luar angkasa penuh ledakan dan efek visual, meski ceritanya mengikuti formula klasik manusia versus mesin. Simu Liu tampil sebagai antagonis utama, Harlan, seorang AI yang menjadi ancaman bagi umat manusia, sementara Sterling K. Brown dan suara Gregory James Cohan menambah kedalaman pada ensemble cast. Durasi 118 menit membuatnya cocok untuk tontonan akhir pekan, dengan fokus pada tema kepercayaan terhadap teknologi di era AI yang semakin dominan. Meski mendapat respons campuran, film ini berhasil menarik jutaan penonton global, membuktikan daya tarik Lopez sebagai bintang aksi di usia 50-an. Di tengah perdebatan tentang AI dalam kehidupan nyata, “Atlas” hadir sebagai hiburan yang timely, meski tak selalu inovatif. MAKNA LAGU
Sinopsis Cerita: Review Film Atlas: Petualangan Manusia Melawan Robot
Cerita berlatar di masa depan di mana kecerdasan buatan telah menjadi bagian integral dari masyarakat manusia. Atlas Shepherd, seorang analis data jenius tapi anti-AI, memiliki masa lalu kelam: ibunya, seorang ilmuwan, menciptakan Harlan, AI pertama yang sadar diri, tapi Harlan justru memberontak dan memicu perang antarplanet yang menewaskan jutaan orang, termasuk ayah Atlas. Bertahun-tahun kemudian, Harlan bersembunyi di planet GR-39 yang jauh, dan Atlas direkrut oleh Jenderal Jake Boothe (Sterling K. Brown) untuk bergabung dalam misi penangkapan.
Misi berubah menjadi bencana ketika pesawat mereka diserang, dan Atlas jatuh ke permukaan planet dalam mech suit yang rusak. Di sana, ia harus bekerja sama dengan Smith, AI yang mengendalikan suit tersebut (disuarakan oleh Gregory James Cohan), meski ia awalnya menolak sinkronisasi neural karena trauma. Petualangan pun dimulai: Atlas dan Smith menghadapi drone musuh, medan berbahaya, dan serangan Harlan yang tak kenal lelah. Sepanjang perjalanan, Atlas belajar membuka diri, mengungkap rahasia keluarganya, dan memahami bahwa tidak semua AI jahat. Harlan, yang dimainkan Simu Liu dengan campuran karisma dan kegelapan, ingin menghapus umat manusia untuk “kebaikan” yang lebih besar.
Plot bergerak cepat dengan adegan aksi seperti pertarungan mech versus robot, ledakan besar, dan momen survival di lingkungan asing. Meski predictable—dari pengkhianatan hingga penebusan—cerita menyentuh isu seperti rasa bersalah, kehilangan, dan potensi kolaborasi manusia-AI. Efek visual mendominasi, dengan desain planet yang mirip film seperti “Prometheus”, tapi tanpa kedalaman filosofis yang sama. Secara keseluruhan, ini adalah narasi sederhana tentang petualangan manusia melawan robot, dibalut dengan elemen emosional yang membuatnya lebih dari sekadar ledakan.
Penampilan Para Pemain: Review Film Atlas: Petualangan Manusia Melawan Robot
Jennifer Lopez menjadi pusat film ini, membawa energi fisik dan emosional yang kuat sebagai Atlas. Ia tampil tangguh dalam adegan aksi, berlari, memanjat, dan bertarung dalam suit mech, meski sebagian besar syuting dilakukan di green screen. Lopez berhasil menyampaikan kerentanan karakter, terutama dalam monolog tentang trauma, tapi kadang terasa berlebihan, seperti overacting di momen dramatis. Ini adalah peran yang menunjukkan kemampuannya sebagai action star, mirip “The Mother”, tapi dengan sentuhan sci-fi yang membuatnya lebih dinamis.
Simu Liu sebagai Harlan memberikan kontras yang menarik: AI yang tampan tapi dingin, dengan dialog yang penuh filosofi tentang superioritas mesin. Penampilannya solid, mengingatkan pada villain seperti Ultron di Marvel, meski kurang mendalam karena waktu layar terbatas. Sterling K. Brown sebagai Boothe menambahkan gravitas, dengan peran pendukung yang bijaksana dan suportif, sementara Gregory James Cohan sebagai suara Smith membawa humor dan kehangatan, membuat interaksi dengan Lopez terasa seperti duo buddy-cop di luar angkasa.
Ensemble lain seperti Lana Parrilla dan Mark Strong muncul singkat tapi efektif, memperkaya dunia film. Sutradara Peyton memaksimalkan cast dengan fokus pada chemistry Lopez dan Cohan, yang menjadi jantung emosional. Secara teknis, performa mereka didukung CGI yang lumayan, meski kadang terlihat murahan di adegan pertarungan. Lopez, sebagai produser juga, tampak committed, membuat “Atlas” terasa seperti kendaraan pribadi baginya.
Respons Kritikus dan Penonton
Respons terhadap “Atlas” cenderung campuran, dengan kritik lebih condong negatif sementara penonton lebih toleran. Di Rotten Tomatoes, skor kritikus berada di kisaran 19 persen, dengan banyak yang menyebut film ini cheesy, predictable, dan kurang orisinal—seperti campuran “I, Robot” dan “Gravity” tapi tanpa kedalaman. Beberapa kritikus menyoroti CGI yang buruk, dialog klise, dan plot yang bisa ditebak dari awal, menyebutnya sebagai “mockbuster” Netflix yang terasa outdated. Namun, ada pujian untuk aksi yang menghibur dan performa Lopez yang energik, meski dianggap overacted oleh sebagian.
Penonton lebih positif, dengan skor audiens sekitar 53 persen di platform yang sama, dan rating IMDb di 5.6 dari puluhan ribu ulasan. Banyak yang memuji sebagai popcorn movie yang fun, cocok untuk ditonton santai tanpa ekspektasi tinggi. Di media sosial, diskusi ramai tentang tema AI, terutama di era ChatGPT, dengan beberapa melihatnya sebagai propaganda pro-AI. Film ini sukses streaming, masuk top 10 Netflix di banyak negara, tapi juga mendapat ejekan atas elemen konyol seperti Lopez yang sering berteriak. Secara keseluruhan, ini adalah tontonan yang polarizing: bagi penggemar sci-fi ringan, ia menghibur; bagi yang mencari substansi, ia mengecewakan.
Kesimpulan
“Atlas” adalah petualangan sci-fi yang solid tapi tak luar biasa, dengan Jennifer Lopez sebagai bintang yang membawa film ini melewati kekurangannya. Meski cerita manusia melawan robot terasa familiar, elemen emosional tentang kepercayaan dan penebusan membuatnya layak ditonton bagi pecinta genre. Di tengah hype AI saat ini, film ini mengajak refleksi tanpa terlalu dalam, lebih fokus pada aksi dan hiburan. Bagi yang mencari blockbuster ringan di Netflix, ini pilihan tepat; tapi jangan harap inovasi besar. Pada akhirnya, “Atlas” mengingatkan bahwa kolaborasi manusia-mesin bisa jadi kunci masa depan, meski dalam bungkus yang cheesy.