Review Jujur Film Bioskop Berjudul Friedas Fall

Film Friedas Fall

Review Jujur Film Bioskop Berjudul Friedas Fall. Friedas Fall, debut panjang sutradara Maria Brendle yang rilis Januari 2025 di Swiss dan festival internasional, langsung jadi film yang bikin mikir soal sejarah hak perempuan. Berdasarkan kasus nyata Frieda Keller tahun 1904—seorang penjahit muda yang bunuh anaknya yang lahir dari pemerkosaan—film ini campur drama periode dengan courtroom intense. Dibintangi Julia Buchmann sebagai Frieda, Maximilian Simonischek sebagai pengacara pembela, Stefan Merki sebagai jaksa, dan Rachel Braunschweig sebagai istri jaksa, durasi 107 menit ini terasa seperti TV drama berkualitas tinggi. Rating IMDb 6.7, kritik campur: puji akurasi historis dan sensitivitas, tapi soroti melodramatik berlebih. Review jujur: solid dan edukatif, tapi kurang punch sinematik.

Plot dan Pendekatan Brendle

Cerita berlatar St. Gallen 1904: Frieda Keller (Buchmann), penjahit miskin, bunuh anaknya Ernstli yang lahir dari pemerkosaan berulang oleh majikan. Kasus ini jadi sensasional karena hukum saat itu lindungi pelaku perkosaan kalau sudah kawin, sementara Frieda diadili mati. Pengacara Arnold Janggen (Simonischek) bela dia dengan argumen ketidakwarasan, sementara jaksa Gmür (Merki) tekan hukuman berat. Istri jaksa Erna (Braunschweig) dan istri pengacara Gesine (Marlene Tanczik) tambah lapisan: solidaritas perempuan lintas kelas yang dorong debat hak perempuan.

Brendle pilih gaya restrained: visual akurat periode, dialog Swiss German autentik, dan fokus psikogram Frieda yang diam tapi penuh luka. Ini bukan thriller cepat, tapi pelan bangun ketegangan courtroom dan sosial—mirip 12 Angry Men versi gender. Kasus ini katalis gerakan kesetaraan Swiss, termasuk abolisi hukuman mati nanti.

Makna dan Relevansi Saat Ini Film Friedas Fall

Makna utama Friedas Fall ada di pertanyaan “seberapa jauh pelaku juga korban?”: Frieda wakilin perempuan kelas bawah yang hancur karena hukum patriarkal—pemerkosaan tak dihukum, ibu tunggal dihujat, dan kemiskinan dorong keputusan tragis. review Film ini sindir hipokris masyarakat Swiss “netral” yang sembunyikan bias gender dan kelas. Solidaritas perempuan—Erna yang awalnya dingin jadi pendukung Frieda—tunjukkin perubahan dimulai dari empati kecil.

Di 2025, relevansinya ngena: debat hak reproduksi, kekerasan seksual, dan ketidakadilan hukum masih ada global. Ini pelajaran sejarah yang sober, ingatkan kemajuan hak perempuan butuh perjuangan panjang—kasus Frieda katalis abolisi mati dan dorong hak politik wanita Swiss (yang baru 1971).

Kesimpulan Film Friedas Fall

Friedas Fall adalah drama historis sensitif yang akurat dan moving, dengan performa Buchmann yang kuat dan makna soal victimisation perempuan yang timeless. Meski kadang melodramatik dan terasa seperti TV movie (visual restrained, pacing lambat), kekuatannya di moral sensitivity dan pelajaran hak perempuan yang ngena. Skor jujur 7/10: layak nonton buat yang suka drama berbasis fakta seperti The Dig atau Suffragette—edukatif tanpa preachy. Di tahun penuh isu gender, ini reminder: sejarah sering ulang kalau kita lupa.

Baca Selengkapnya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *