Review Film Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows. Film Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows yang dirilis pada 2016 masih sering dibahas sebagai sekuel yang mencoba menebus kekurangan pendahulunya. Disutradarai oleh Dave Green, film ini menghadirkan lebih banyak elemen klasik seperti Bebop, Rocksteady, dan Krang, sambil mengikuti empat kura-kura ninja yang berusaha melindungi New York dari ancaman dimensi lain. Meski plotnya penuh aksi over-the-top, film ini menawarkan hiburan ringan dengan visual efek yang megah, meskipun tidak sepenuhnya memuaskan semua penggemar franchise legendaris ini. TIPS MASAK
Plot dan Karakter yang Lebih Fan-Service: Review Film Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows
Cerita berlanjut satu tahun setelah film pertama: Shredder kabur dari penjara dengan bantuan Baxter Stockman, lalu bekerja sama dengan Krang untuk membuka portal dimensi dan menguasai dunia. Kura-kura ninja—Leonardo, Raphael, Donatello, dan Michelangelo—bergabung dengan April O’Neil dan Casey Jones baru untuk menghentikan rencana itu, sambil menghadapi mutant baru Bebop dan Rocksteady. Film ini lebih fokus pada turtles dibandingkan pendahulunya, dengan banter antar saudara yang lucu dan momen pizza yang nostalgic. Karakter seperti Bebop dan Rocksteady menjadi highlight karena humor bodoh mereka, sementara Krang memberikan vibe villain klasik dari kartun 80-an.
Aksi dan Visual yang Menjadi Andalan: Review Film Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows
Kekuatan utama film ini ada pada adegan aksi yang besar dan kreatif, seperti pertarungan di pesawat atau chase di kota dengan tank buatan turtles. Efek CGI untuk mutant dan Krang cukup impresif untuk masanya, dengan gerakan cepat dan ledakan yang khas gaya produksi besar. Desain turtles sedikit disesuaikan agar lebih kartunish, meski masih terlihat bulky. Soundtrack energik dan slow-motion dramatis menambah sensasi, membuat film ini terasa seperti episode panjang kartun dengan budget hollywood—cocok untuk penggemar aksi tanpa mikir terlalu dalam.
Kelemahan dan Penerimaan Secara Umum
Meski lebih baik dari film pertama dalam hal fan-service, plot tetap tipis dan penuh lubang logika, dengan dialog yang kadang cringe dan karakter manusia kurang berkembang. Kritikus saat rilis banyak mengeluh cerita terlalu childish dan kurang wit seperti komik asli, sementara akhir terasa formulaik. Secara komersial, film ini underperform dengan pendapatan global sekitar 245 juta dolar dari budget 135 juta, menyebabkan rencana trilogi dibatalkan. Penonton kasual memberi nilai lebih tinggi karena keseruan aksi, tapi penggemar hardcore sering kecewa karena tidak sepenuhnya setia pada akar franchise.
Kesimpulan
Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows adalah sekuel yang lebih fun dan penuh nostalgia dibandingkan pendahulunya, dengan aksi brutal, villain ikonik, dan humor turtles yang menghibur. Meski plot sederhana dan eksekusi kadang chaotic, film ini berhasil jadi guilty pleasure bagi yang mencari hiburan ringan penuh ledakan dan cowabunga. Di era reboot animasi yang lebih sukses belakangan, film ini tetap punya tempat sebagai upaya live-action yang berani tambah elemen kartun klasik—layak ditonton ulang untuk malam santai bersama pizza.