Review Film Beetlejuice Beetlejuice: Nostalgia atau Garing?

review-film-beetlejuice-beetlejuice-nostalgia-atau-garing

Review Film Beetlejuice Beetlejuice: Nostalgia atau Garing? Beetlejuice Beetlejuice, sekuel yang ditunggu-tunggu setelah 36 tahun sejak film asli 1988, akhirnya tayang pada September 2024 dan masih ramai dibicarakan hingga awal 2026. Tim Burton kembali menyutradarai, Michael Keaton mengulang peran ikoniknya sebagai Beetlejuice, Winona Ryder kembali sebagai Lydia Deetz, dan Catherine O’Hara sebagai Delia Deetz. Kali ini cerita menambah Jenna Ortega sebagai Astrid (putri Lydia), Justin Theroux sebagai Rory (suami baru Lydia), dan Monica Bellucci sebagai istri lama Beetlejuice. Dengan durasi 104 menit dan budget sekitar US$100 juta, film ini berhasil meraup lebih dari US$450 juta secara global. Rating Rotten Tomatoes 76% dari kritikus dan 82% dari penonton. Pertanyaan besar yang terus muncul: apakah sekuel ini benar-benar membangkitkan nostalgia 80-an dengan cara yang segar, atau malah terasa garing dan hanya mengandalkan nama besar? REVIEW WISATA

Visual dan Gaya Burton yang Khas di Film Beetlejuice Beetlejuice: Review Film Beetlejuice Beetlejuice: Nostalgia atau Garing?

Tim Burton tetap setia pada estetika gotik-komedi khasnya. Dunia Afterlife kembali penuh warna neon, stop-motion, dan desain makhluk aneh yang absurd tapi menawan. Beetlejuice sendiri terlihat lebih liar dan kotor dari sebelumnya—makeup-nya lebih detail, gigi kuning, rambut acak-acakan, dan kostum yang semakin rusak. Adegan-adegan di Afterlife seperti pasar bawah tanah dan birokrasi kematian terasa sangat kreatif dan penuh detail kecil yang bikin penonton tersenyum. Efek praktis masih dominan—makhluk stop-motion, prostetik, dan set fisik terasa jauh lebih hidup dibanding CGI berlebihan. Musik Danny Elfman kembali dengan remix tema klasik “Day-O” dan “Jump in the Line” yang terasa nostalgia tapi tetap segar. Visualnya memang jadi salah satu kekuatan terbesar—setiap frame penuh imajinasi Burton yang khas.

Performa Michael Keaton dan Cast Utama: Review Film Beetlejuice Beetlejuice: Nostalgia atau Garing?

Michael Keaton sebagai Beetlejuice tetap jadi daya tarik utama—ia kembali dengan energi liar, dialog cepat, dan improvisasi yang membuat karakter ini terasa hidup kembali. Keaton berhasil menyeimbangkan antara lucu, menjijikkan, dan sedikit menyeramkan tanpa kehilangan pesona asli. Winona Ryder sebagai Lydia Deetz dewasa tampil solid—ia berhasil bawa rasa trauma masa lalu dan kelelahan sebagai ibu tunggal dengan sangat meyakinkan. Catherine O’Hara sebagai Delia Deetz mencuri perhatian dengan komedi fisik dan dialog tajam—karakternya lebih eksentrik dan lebih lucu dari sebelumnya. Jenna Ortega sebagai Astrid membawa energi muda yang pas sebagai putri pemberontak yang skeptis terhadap ibunya. Justin Theroux sebagai Rory dan Monica Bellucci sebagai istri lama Beetlejuice juga menambah warna, meski waktu layar mereka terbatas. Ensemble cast ini terasa kompak—semua aktor paham nada absurd dan gelap yang diinginkan Burton.

Kelemahan Cerita dan Perbandingan dengan Film Asli

Sayangnya, cerita menjadi kelemahan utama. Plot terasa tipis dan berantakan—fokus utama pada pernikahan Lydia dengan Rory yang buruk dan kembalinya Beetlejuice karena dipanggil lagi. Banyak subplot (termasuk cerita Astrid dan hantu masa lalu) terasa tidak terintegrasi dengan baik dan kurang berkembang. Beberapa adegan terasa seperti fanservice semata—referensi ke film pertama muncul terlalu sering tanpa alasan kuat. Dibandingkan Beetlejuice 1988 yang sangat liar, cepat, dan penuh kejutan, sekuel ini terasa lebih lambat dan kurang punya momen ikonik yang benar-benar baru. Humornya banyak yang terasa dated atau terlalu berusaha lucu, sementara elemen horornya jauh lebih ringan. Bagi sebagian penggemar lama, film ini terasa garing karena tidak berhasil menangkap semangat anarkis aslinya—malah lebih mirip komedi keluarga modern daripada horor-komedi gelap.

Respon Penonton dan Dampak

Penonton Indonesia yang tumbuh dengan Beetlejuice asli menyambut campur aduk—banyak yang senang melihat Keaton dan Ryder kembali, tapi kecewa karena cerita terasa kurang kuat dan terlalu banyak fanservice. Box office US$450 juta (dengan proyeksi akhir US$550–600 juta) termasuk sukses komersial meski tidak sebesar film superhero. Di media sosial, klip Beetlejuice muncul kembali dan adegan dansa “Day-O” versi baru jadi viral, tapi banyak juga meme yang mengejek cerita yang “garing”. Film ini juga membuka diskusi soal sekuel legacy—apakah cukup mengandalkan nostalgia dan cast lama, atau harus punya cerita baru yang kuat? Banyak yang bilang ini bukti bahwa tidak semua sekuel setelah 30 tahun berhasil menangkap semangat aslinya.

Kesimpulan

Beetlejuice Beetlejuice adalah sekuel yang berhasil membangkitkan nostalgia 80-an dengan visual khas Burton dan performa Michael Keaton yang masih liar. Tapi cerita yang tipis, pacing lambat, dan humor yang kadang terasa dated membuatnya tidak sekuat film pertama—lebih banyak fanservice daripada inovasi. Worth it? Ya—kalau kamu penggemar berat Beetlejuice asli dan ingin melihat Keaton serta Ryder kembali. Tapi kalau kamu harap sekuel yang segar dan gila seperti 1988, mungkin akan merasa agak kecewa dan terasa garing. Nonton kalau belum—siapkan nostalgia dan ekspektasi realistis. Burton berhasil bawa kembali Beetlejuice, tapi kali ini tidak seaneh dan sekuat dulu. Film ini lucu, tapi tidak sepenuhnya berhasil jadi klasik baru.

 

BACA SEELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *