Review Film Dilan 1990

review-film-dilan-1990

Review Film Dilan 1990. Film Dilan 1990 yang dirilis pada 2018 kembali ramai dibicarakan di awal 2026. Kisah romansa remaja ikonik ini sering ditayangkan ulang di televisi, termasuk versi extended yang menemani liburan akhir tahun. Diadaptasi dari novel best-seller karya Pidi Baiq, film ini berhasil mencuri hati lebih dari 6,3 juta penonton saat pertama kali tayang, menjadikannya salah satu film Indonesia terlaris sepanjang masa. Hingga kini, daya tariknya tak pudar, membangkitkan nostalgia era 1990-an bagi generasi lama dan memperkenalkan romansa polos kepada penonton muda. TIPS MASAK

Plot dan Karakter Utama: Review Film Dilan 1990

Cerita berlatar di Bandung tahun 1990, mengikuti Milea, siswi pindahan dari Jakarta yang bertemu Dilan, pemuda pemberani sekaligus ketua geng motor sekolah. Pendekatan Dilan unik—penuh ramalan lucu, puisi, dan gombalan cheesy—membuat Milea perlahan jatuh hati, meski awalnya ia punya pacar di Jakarta. Konflik muncul dari dunia geng motor Dilan, teman-temannya yang nakal, hingga cemburu kecil yang mewarnai hubungan mereka.

Iqbaal Ramadhan memerankan Dilan dengan karisma alami, membuat sosok bad boy romantis itu terasa hidup dan mudah disukai. Vanesha Prescilla sebagai Milea tampil natural, mewakili gadis pintar yang tergoda pesona sederhana. Karakter pendukung seperti Anhar, Piyan, dan Wati menambah warna komedi serta drama persahabatan. Chemistry kedua pemeran utama kuat, membuat penonton ikut baper dengan setiap adegan manis.

Elemen Nostalgia dan Romantis: Review Film Dilan 1990

Dilan 1990 unggul dalam membangun nostalgia era 1990-an. Latar Bandung dengan jalanan klasik, telepon umum, kaset musik, hingga seragam SMA terasa autentik dan hangat. Gombalan Dilan yang legendaris—seperti ramalan masa depan atau janji sederhana—menjadi trademark yang sering dikutip hingga sekarang. Romansa di sini polos, tanpa adegan berlebihan, fokus pada perasaan murni cinta pertama.

Disutradarai Fajar Bustomi dan Pidi Baiq sendiri, film ini menyajikan tempo santai yang pas untuk cerita remaja. Musik pendukung yang catchy memperkuat nuansa era itu, membuat penonton merasa seperti kembali ke masa SMA. Elemen ini yang membuat film timeless, cocok ditonton ulang kapan saja.

Kelebihan dan Kritik

Film ini dipuji karena kesederhanaan cerita yang menyentuh, akting memukau Iqbaal dan Vanesha, serta fenomena budaya yang diciptakan. Banyak penonton merasa terhibur sekaligus haru, terutama dengan dialog ikonik yang bikin senyum-senyum sendiri. Kesuksesan box office membuktikan daya tariknya lintas generasi.

Di sisi lain, beberapa kritik bilang plot terlalu cheesy dan predictable, dengan konflik yang kurang mendalam. Karakter pendukung kadang terasa kurang dieksplor, dan penggambaran geng motor agak ringan. Meski begitu, kekurangan ini tak mengganggu kesan keseluruhan sebagai romcom remaja yang menyenangkan.

Kesimpulan

Dilan 1990 tetap jadi benchmark romansa remaja Indonesia yang abadi. Dengan nostalgia kuat, karakter ikonik, dan pesan cinta sederhana, film ini layak ditonton ulang di awal 2026 ini. Ia mengingatkan bahwa cinta pertama selalu punya magia sendiri, penuh ramalan lucu dan janji manis. Secara keseluruhan, karya ini adalah paket hiburan ringan yang bikin hati hangat, cocok untuk siapa saja yang rindu masa SMA atau ingin merasakan romansa polos era 90-an.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *