Review Film Decision to Leave: Romansa Misterius Chan-wook. Decision to Leave (헤어질 결심) karya Park Chan-wook yang dirilis tahun 2022 tetap menjadi salah satu film romansa-thriller paling memikat dan cerdas dalam beberapa tahun terakhir. Film ini berhasil memenangkan Best Director di Festival Film Cannes 2022 serta mendapat nominasi Oscar untuk Best International Feature Film. Dengan rating 94% di Rotten Tomatoes dari kritikus dan skor 7.3/10 di IMDb, Decision to Leave menggabungkan nuansa noir klasik, misteri pembunuhan, dan kisah cinta yang penuh ambiguitas dengan sangat apik. Park Chan-wook, yang dikenal lewat trilogi balas dendam (Oldboy, Sympathy for Mr. Vengeance, Lady Vengeance), kali ini menghadirkan cerita detektif yang sarat emosi dan ketegangan psikologis. Hampir empat tahun berlalu, film ini masih sering disebut sebagai “romansa paling misterius” dalam sinema modern Korea. MAKNA LAGU
Narasi yang Menggoda dan Atmosfer yang Dingin di Film Decision to Leave: Review Film Decision to Leave: Romansa Misterius Chan-wook
Cerita berpusat pada Hae-joon (Park Hae-il), detektif polisi yang sedang menyelidiki kematian misterius seorang pria kaya yang jatuh dari tebing. Istri korban, Seo-rae (Tang Wei), menjadi tersangka utama—wanita asal Tiongkok yang terlihat dingin namun sangat menarik. Semakin lama Hae-joon mengamati Seo-rae, semakin ia terpikat, hingga batas antara tugas investigasi dan perasaan pribadi mulai kabur. Park Chan-wook membangun ketegangan secara perlahan tanpa perlu adegan aksi besar. Tidak ada kejar-kejaran mobil atau baku tembak—semua konflik datang dari tatapan mata, jeda diam yang panjang, dan dialog yang terasa penuh makna tersembunyi. Atmosfer film sangat dingin dan melankolis: hujan deras di malam hari, pantai sepi, dan musik latar minimalis yang menekan saraf. Penonton diajak meragukan apa yang dilihat—apakah Seo-rae pembunuh, apakah Hae-joon sedang jatuh cinta, atau keduanya sedang dimainkan oleh sesuatu yang lebih besar?
Performa Aktor dan Teknik Sinematik di Film Decision to Leave: Review Film Decision to Leave: Romansa Misterius Chan-wook
Park Hae-il sebagai Hae-joon memberikan penampilan yang sangat halus: dari detektif profesional yang tenang menjadi pria yang perlahan kehilangan kendali karena obsesi. Ekspresi wajahnya penuh konflik internal—rasa curiga, rasa bersalah, dan hasrat yang tak terucap. Tang Wei sebagai Seo-rae adalah casting sempurna: dingin, misterius, tapi punya kerapuhan yang membuat penonton ikut simpati. Chemistry antara keduanya terasa sangat nyata meski minim dialog romantis—semua datang dari tatapan mata dan gerakan kecil yang sangat bermakna. Sinematografi Kim Ji-yong sangat memukau: warna dingin yang dominan, long take yang lambat, dan komposisi frame yang simetris membuat setiap adegan terasa seperti lukisan noir yang gelap. Adegan ikonik seperti pantai malam hari dengan kabut atau saat Hae-joon mengamati Seo-rae melalui jendela masih jadi momen paling membekas. Sound design dan scoring karya Jo Yeong-wook sangat minimalis tapi efektif—suara angin, deru ombak, dan musik latar piano yang haunting membuat keheningan terasa lebih menakutkan daripada suara keras.
Warisan dan Mengapa Masih Relevan
Decision to Leave berhasil membuktikan bahwa thriller romansa bisa sangat cerdas dan atmosferik tanpa mengandalkan kekerasan berlebihan atau plot twist murahan. Film ini juga memperkuat posisi Park Chan-wook sebagai salah satu sutradara terbaik Korea saat ini—ia mampu menggabungkan gaya noir klasik dengan sentuhan modern yang sangat Korea. Di Indonesia, film ini tayang sukses di bioskop dan menjadi salah satu film Korea terlaris tahun 2022–2023 di platform streaming. Banyak penonton mengaku merasa gelisah berhari-hari setelah menonton karena endingnya yang ambigu dan terbuka—tidak ada jawaban pasti, hanya pertanyaan yang terus bergema.
Kesimpulan
Decision to Leave pantas disebut sebagai salah satu thriller romansa paling menggugah dan cerdas dalam beberapa tahun terakhir. Dengan atmosfer mencekam, performa aktor luar biasa, misteri yang tak pernah benar-benar terjawab, dan kritik sosial yang halus, film ini berhasil menciptakan pengalaman sinematik yang sulit dilupakan. Jika Anda mencari film dengan ending jelas atau aksi cepat, mungkin akan kecewa. Tapi jika Anda siap merasa gelisah, meragukan apa yang dilihat, dan terus memikirkan film ini berhari-hari setelah selesai, Decision to Leave adalah pilihan tepat. Bagi penggemar sinema Korea, film ini wajib ditonton—dan bagi yang sudah menonton berkali-kali, setiap ulang tahun rilisnya tetap terasa seperti pukulan baru. Decision to Leave bukan sekadar film—ia adalah pengalaman psikologis yang meninggalkan bekas permanen. Layak ditonton sekali seumur hidup, tapi efeknya bertahan selamanya.