Review Film CODA: Keluarga Tuli dan Mimpi Anak

Review Film CODA: Keluarga Tuli dan Mimpi Anak

Review Film CODA: Keluarga Tuli dan Mimpi Anak. Di antara film-film yang menyentuh hati dan membuka mata tentang keberagaman keluarga, CODA tetap menjadi salah satu karya paling menginspirasi hingga awal 2026. Dirilis pada Agustus 2021 di Sundance Film Festival—di mana ia langsung memenangkan Grand Jury Prize dan Audience Award—film ini kemudian dibeli Apple TV+ dengan rekor harga tertinggi untuk film festival saat itu. CODA mengikuti Ruby Rossi, remaja pendengar satu-satunya dalam keluarga Tuli, yang terjebak antara membantu bisnis nelayan keluarganya dan mengejar mimpi bernyanyi di perguruan tinggi. Dengan campuran humor hangat, drama emosional, dan musik yang menyentuh, film ini bukan sekadar cerita coming-of-age; ia adalah potret keluarga Tuli dan mimpi anak yang penuh konflik, pengorbanan, serta cinta yang tak terucapkan lintas batas pendengaran. INFO GAME

Latar Belakang Film: Review Film CODA: Keluarga Tuli dan Mimpi Anak

 

CODA merupakan remake dari film Prancis La Famille Bélier (2014), tapi sutradara Sian Heder membuatnya jauh lebih autentik dengan melibatkan aktor Tuli sungguhan. Marlee Matlin—aktris Tuli pertama yang memenangkan Oscar—berperan sebagai Jackie Rossi, ibu Ruby yang tangguh tapi protektif. Troy Kotsur sebagai Frank Rossi, ayah yang lucu dan keras kepala, menjadi aktor Tuli pertama yang memenangkan Oscar untuk Best Supporting Actor di 2022. Emilia Jones memerankan Ruby dengan chemistry alami, sementara Daniel Durant sebagai Leo Rossi, kakak Ruby yang ingin membuktikan diri. Syuting dilakukan di Gloucester, Massachusetts, dengan komunitas nelayan asli sebagai latar, dan banyak adegan dialog menggunakan bahasa isyarat Amerika (ASL) tanpa subtitle di beberapa bagian—membuat penonton pendengar ikut “merasa” pengalaman Tuli. Musik oleh Marius de Vries menonjolkan lagu-lagu seperti “Both Sides Now” yang dinyanyikan Ruby, menciptakan kontras indah antara suara dan keheningan keluarga.

Analisis Tema dan Makna: Review Film CODA: Keluarga Tuli dan Mimpi Anak

 

Inti dari CODA adalah mimpi anak dalam keluarga Tuli—di mana Ruby menjadi “jembatan suara” bagi keluarganya sejak kecil, menerjemahkan percakapan dokter, telepon bisnis, hingga lelucon di pasar ikan. Ia tumbuh dengan beban itu, tapi juga cinta mendalam: keluarganya bergantung padanya, sementara ia bergantung pada musik sebagai pelarian dan identitas diri. Konflik utama muncul ketika Ruby mendapat kesempatan audisi di Berklee College of Music—mimpi yang berarti meninggalkan keluarga yang tak bisa mendengar suaranya bernyanyi.
Film ini tak menghindari realitas pahit: keluarga Rossi sering merasa terisolasi di dunia pendengar, Frank sempat menolak Ruby bernyanyi karena takut kehilangan “penerjemah” satu-satunya, dan ada momen ketika Ruby merasa bersalah karena ingin “bebas”. Namun Sian Heder menyajikannya dengan kelembutan—ada humor dalam bahasa isyarat yang kasar tapi penuh kasih, kebanggaan Frank saat melihat Ruby tampil, dan momen emosional ketika keluarga “mendengar” Ruby melalui getaran dan ekspresi. Adegan klimaks di audisi—di mana Ruby bernyanyi sementara keluarganya melihat dari belakang panggung—menjadi simbol kuat: mimpi anak tak harus mengorbankan keluarga, tapi keluarga juga harus belajar melepaskan demi kebahagiaan anak. CODA (Child of Deaf Adults) bukan sekadar label; ia adalah identitas Ruby yang kompleks—antara rasa bangga menjadi bagian keluarga Tuli dan keinginan mengejar dunia yang tak bisa mereka ikuti.

Dampak dan Resepsi Publik

Sejak rilis, CODA mendapat sambutan luar biasa karena representasi autentik komunitas Tuli. Film ini memenangkan tiga Oscar di 2022—Best Picture, Best Supporting Actor (Troy Kotsur), dan Best Adapted Screenplay—menjadi film pertama dengan mayoritas pemeran Tuli yang meraih Best Picture. Kemenangan ini membuka pintu lebih lebar bagi aktor Tuli di Hollywood dan meningkatkan kesadaran tentang bahasa isyarat serta pengalaman CODA. Di Indonesia, CODA populer di Netflix, sering jadi rekomendasi keluarga dan diskusi tentang mimpi anak versus tanggung jawab keluarga. Banyak penonton berbagi cerita pribadi tentang saudara atau anak dengan kebutuhan khusus, merasa terwakili oleh kejujuran emosional film ini. Hingga 2026, CODA tetap jadi referensi utama ketika membahas representasi disabilitas di sinema, dengan penayangan ulang di bioskop komunitas dan sekolah, serta dampak positif pada komunitas Tuli lokal.

Kesimpulan

CODA adalah cerita indah tentang keluarga Tuli dan mimpi anak—sebuah pengingat bahwa cinta keluarga tak selalu harus sama bentuknya, tapi selalu ada dalam bentuk pengorbanan dan dukungan. Sian Heder berhasil menyatukan humor, air mata, dan musik dalam narasi yang hangat tapi jujur, membuat penonton tak hanya terhibur tapi juga tergerak untuk lebih memahami dunia Tuli. Di 2026 ini, ketika isu inklusi dan mimpi generasi muda masih relevan, film ini mengajak kita merenung: kadang melepaskan adalah bentuk cinta terbesar. Jika Anda belum menonton ulang atau baru ingin mencobanya, siapkan tisu—CODA akan membuat Anda tersenyum, menangis, dan menghargai keluarga Anda dengan cara yang lebih dalam.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *