Review Film 1917: Perang Dunia yang Tegang. 1917, film perang karya Sam Mendes yang dirilis pada akhir 2019, tetap menjadi masterpiece sinematik hingga awal 2026. Meskipun telah lewat lebih dari enam tahun sejak tayang perdana di bioskop dan platform streaming seperti Netflix atau Prime Video, film ini sering dibahas ulang berkat teknik pengambilan gambar one-shot yang revolusioner dan penggambaran Perang Dunia I yang mencekam. Dibintangi George MacKay sebagai Lance Corporal Schofield dan Dean-Charles Chapman sebagai Lance Corporal Blake, dengan cameo dari aktor seperti Colin Firth, Benedict Cumberbatch, dan Mark Strong, 1917 memenangkan tiga Oscar pada 2020, termasuk Best Cinematography untuk Roger Deakins. Dengan rating IMDb 8.2/10 dan Rotten Tomatoes 89% dari kritikus, film durasi 119 menit ini meraup lebih dari 384 juta dolar global. Di Indonesia, di mana minat terhadap film perang historis meningkat pasca-pandemi, 1917 sering direkomendasikan untuk tontonan reflektif, terutama di tengah peringatan sejarah PD I yang masih relevan. Di era 2026, dengan diskusi online tentang teknik filmmaking semakin marak, film ini seperti reminder tentang horor perang yang tak lekang waktu, membuatnya cocok untuk ditonton ulang saat butuh pengalaman imersif yang tegang. INFO GAME
Sinopsis dan Plot Utama: Review Film 1917: Perang Dunia yang Tegang
Cerita berlatar April 1917 di front barat Perang Dunia I, di mana dua tentara Inggris muda, Blake dan Schofield, ditugaskan mengirim pesan penting melintasi wilayah musuh. Pesan itu harus menghentikan serangan batalion saudara Blake yang akan berujung bencana karena jebakan Jerman. Plot mengikuti perjalanan mereka dalam waktu nyata, dari parit-parit berlumpur hingga desa hancur, menghadapi ranjau, sniper, dan mayat bergelimpangan. Alur sederhana tapi efektif: dimulai dengan istirahat singkat di rumput hijau, lalu berubah menjadi mimpi buruk saat mereka memasuki no man’s land yang penuh kawat berduri dan bangkai. Konflik utama datang dari tekanan waktu—mereka punya kurang dari 24 jam—dan hambatan fisik seperti sungai deras atau desa yang terbakar. Narasi dibangun seperti thriller detektif, dengan elemen survival yang intens, meski tanpa subplot rumit. Pacing ketat, meski beberapa penonton mengkritik kurangnya kedalaman karakter karena fokus pada perjalanan daripada backstory. Secara keseluruhan, plot ini terinspirasi dari cerita kakek Mendes, membuatnya autentik dan mencekam, tanpa bergantung pada efek spesial berlebih—semua difilmkan di lokasi nyata seperti Salisbury Plain.
Akting dan Chemistry Pemeran: Review Film 1917: Perang Dunia yang Tegang
George MacKay sebagai Schofield memukau dengan performa fisik dan emosional yang kuat—ia menyampaikan ketakutan, determinasi, dan kelelahan dengan ekspresi halus, terutama di adegan lari malam hari yang ikonik. Aktor muda ini, dikenal dari Captain Fantastic, menjadi pusat film dengan stamina yang meyakinkan. Dean-Charles Chapman sebagai Blake memberikan kontras energik; karakternya lebih optimis dan impulsif, menciptakan chemistry seperti saudara yang saling bergantung. Interaksi mereka terasa natural, penuh banter ringan di tengah horor, membuat penonton ikut merasakan ikatan itu. Pemeran pendukung menambah bobot: Colin Firth sebagai Jenderal Erinmore memberikan perintah awal dengan otoritas dingin, sementara Benedict Cumberbatch sebagai Kolonel Mackenzie muncul singkat tapi impactful dengan sikap skeptis. Mark Strong sebagai Kapten Smith menambahkan momen humanis yang menyentuh. Ensemble cast ini solid, meski peran mereka terbatas karena format one-shot yang membatasi dialog panjang. Kritik minor datang pada kurangnya diversity, tapi akting secara keseluruhan menjadi jangkar emosional, membuat film lebih dari sekadar spektakel visual. Penonton sering memuji bagaimana MacKay dan Chapman membawa beban narasi, menjadikan duo ini sebagai hati dari cerita perang yang impersonal.
Teknik Sinematografi dan Elemen Visual
1917 unggul dalam teknik sinematografi Roger Deakins yang membuat film terlihat seperti satu pengambilan gambar kontinu—sebuah ilusi yang dibuat dengan stitching panjang dan koreografi rumit, mirip Birdman tapi di medan perang. Elemen visual memukau: dari parit sempit yang klaustrofobik hingga ladang luas yang penuh kabut, semuanya difilmkan dengan kamera Arri Alexa LF untuk kedalaman warna alami. Adegan malam di desa Écoust, dengan flare yang menyinari kegelapan, menjadi highlight teknis yang memenangkan Oscar. Soundtrack Thomas Newman berdenyut dengan ketegangan, memadukan drum perang dengan string emosional, sementara desain suara membuat ledakan dan peluit peluru terasa nyata. Tema utama mengeksplorasi absurditas perang, keberanian biasa, dan kerugian manusiawi—tanpa glorifikasi heroik, tapi fokus pada survival dan pengorbanan. Humor minim, tapi ada momen ironis seperti pertemuan dengan tentara musuh yang tak terduga. Meski ada kritik bahwa one-shot terasa gimmick dan mengurangi kedalaman naratif, ini justru kekuatan: imersif seperti game VR, membuat penonton merasa ikut berlari. Di 2026, teknik ini masih inspiratif bagi filmmaker, sering dibandingkan dengan Dunkirk Nolan tapi lebih intim. Elemen ini membuat 1917 seperti lukisan hidup tentang horor PD I, dengan pesan anti-perang yang abadi.
kesimpulan
1917 adalah film perang yang tegang dan teknis brilian, ideal untuk mereka yang mencari pengalaman imersif di tengah era film blockbuster 2026. Dengan plot survival kuat, akting autentik, dan sinematografi revolusioner, karya Mendes ini layak ditonton ulang, meski bukan tanpa kekurangan seperti kedalaman karakter. Tema tentang keberanian di tengah kekacauan membuatnya tetap relevan, terutama bagi penggemar George MacKay atau Roger Deakins. Jika belum merasakan perjalanan Schofield, ini saatnya—jaminan adrenalin dan refleksi setelahnya.