Review Film Boy Kills World: Dunia Gila

Review Film Boy Kills World: Dunia Gila

Review Film Boy Kills World: Dunia Gila. Boy Kills World (2024) karya sutradara Moritz Mohr tetap menjadi salah satu film action paling liar dan dibicarakan di kalangan penggemar genre hingga awal 2026. Film berdurasi 110 menit ini dibintangi Bill Skarsgård sebagai Boy—seorang pemuda bisu yang kehilangan keluarganya dan kini menjalani misi balas dendam brutal terhadap rezim diktator Hilda Van Der Koy (Famke Janssen). Dirilis secara teatrikal April 2024 dan kemudian tersedia di berbagai platform streaming, Boy Kills World langsung mendapat perhatian karena gaya visual over-the-top, kekerasan kartunish yang ekstrem, dan pendekatan yang tidak serius terhadap narasi balas dendam. Meski mendapat ulasan campur dari kritikus (banyak yang menyebutnya “terlalu gila” atau “kurang substansi”), film ini sukses besar di kalangan penonton muda yang mencari hiburan action tanpa beban pikiran. MAKNA LAGU

Alur Cerita yang Chaos dan Penuh Kekerasan: Review Film Boy Kills World: Dunia Gila

Cerita berpusat pada Boy, seorang pemuda yang bisu sejak kecil setelah disiksa oleh rezim Hilda Van Der Koy. Keluarganya dibantai, dan Boy dilatih oleh seorang pembunuh bayaran misterius (Yayan Ruhian) untuk menjadi mesin pembunuh. Tahun-tahun kemudian, Boy kembali ke kota untuk membalas dendam pada keluarga Van Der Der Koy selama acara tahunan “The Culling”—turnamen pembunuhan publik yang disiarkan secara nasional.
Alur cerita sangat sederhana dan linier: Boy membantai orang-orang Van Der Koy satu per satu dengan cara yang semakin brutal dan kreatif. Tidak ada plot twist rumit atau penjelasan panjang; film ini lebih mirip video game action dengan cutscene daripada drama naratif. Setiap adegan pembunuhan dirancang untuk menjadi lebih gila dari sebelumnya—dari pertarungan tangan kosong hingga penggunaan senjata improvisasi seperti palu, kapak, dan bahkan boneka anak-anak sebagai senjata. Humor gelap dan kekerasan kartunish menjadi ciri khas utama, membuat film terasa seperti campuran John Wick, The Raid, dan Deadpool versi lebih gila.

Penampilan Bill Skarsgård dan Pemeran Pendukung: Review Film Boy Kills World: Dunia Gila

Bill Skarsgård memberikan penampilan fisik yang luar biasa sebagai Boy. Karena karakternya bisu sepanjang film, Skarsgård mengandalkan ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan bahasa isyarat untuk menyampaikan emosi—dari kemarahan membara hingga momen lucu yang tidak terduga. Ia juga melakukan sebagian besar stunt sendiri, termasuk adegan-adegan pertarungan panjang yang sangat melelahkan secara fisik.
Famke Janssen sebagai Hilda Van Der Koy tampil sebagai antagonis yang dingin dan sadis, sementara Yayan Ruhian sebagai mentor Boy membawa intensitas khasnya dalam adegan-adegan action. Pemeran pendukung seperti Jessica Rothe (sebagai perempuan misterius) dan Andrew Koji (sebagai pembunuh bayaran lain) menambahkan warna dan kekacauan yang pas. Secara keseluruhan, cast berhasil menjaga energi film tetap tinggi meski narasinya sangat tipis.

Tema dan Gaya Visual yang Over-the-Top

Film ini tidak terlalu dalam secara tematik; ia lebih fokus pada hiburan dan kekerasan estetis. Tema utamanya adalah balas dendam klasik dengan twist “dunia gila” di mana kekerasan menjadi hiburan publik. Namun yang membuat film ini menonjol adalah gaya visual Moritz Mohr: warna-warna neon yang mencolok, slow-motion brutal, dan koreografi pertarungan yang sangat kreatif. Setiap adegan action dirancang untuk menjadi lebih gila dari sebelumnya—dari pembantaian di pesta hingga pertarungan di tengah kerumunan.
Musik karya Ludvig Forssell dan Jed Kurzel menggunakan beat elektronik berat dan synth yang menggelegar untuk memperkuat rasa chaos. Tidak ada pretensi untuk menjadi film “bermakna”; film ini jujur mengakui bahwa ia hanya ingin menghibur dengan darah, kekerasan, dan humor gelap.

Kesimpulan

Boy Kills World adalah film action yang gila, brutal, dan sangat menghibur—menyajikan balas dendam dengan cara yang over-the-top tanpa malu-malu. Penampilan fisik Bill Skarsgård luar biasa, sementara arahan Moritz Mohr berhasil menciptakan dunia yang kacau dan penuh energi. Film ini bukan tentang kedalaman narasi atau pesan moral; ia adalah tontonan murni untuk penggemar kekerasan kreatif dan humor gelap ala John Wick atau The Raid, tapi dengan sentuhan lebih absurd dan kartunish. Bagi yang mencari cerita kompleks atau drama emosional, film ini mungkin terasa kosong; tapi bagi yang ingin aksi nonstop, darah berceceran, dan tawa gelap, Boy Kills World adalah pilihan sempurna. Hingga 2026, film ini tetap menjadi salah satu guilty pleasure terbaik di genre action—cepat, berdarah, dan tidak pernah berpura-pura jadi sesuatu yang lebih serius dari yang sebenarnya. Sebuah hiburan brutal yang sukses dan layak ditonton bagi siapa saja yang ingin melihat dunia menjadi “gila” selama dua jam penuh.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *