Review Film Alto Knights: De Niro Dual Role Epik?

review-film-alto-knights-de-niro-dual-role-epik

Review Film Alto Knights: De Niro Dual Role Epik? Film Alto Knights yang tayang sejak November 2025 langsung jadi salah satu rilis paling dinanti penggemar drama kriminal tahun itu. Robert De Niro memerankan dua karakter sekaligus: Vito Genovese dan Frank Costello, dua bos mafia New York di era 1950-an yang terlibat perang kekuasaan brutal. Disutradarai Barry Levinson, film ini punya durasi 2 jam 19 menit dan budget US$100 juta. Hingga Januari 2026, box office global capai US$185 juta, rating Rotten Tomatoes 79% kritikus dan 85% penonton, serta CinemaScore B+. Cerita diambil dari buku “The Two Mafias” karya Selwyn Raab, fokus pada rivalitas Genovese-Costello yang berujung pembunuhan dan pengkhianatan. Pertanyaannya: apakah dual role De Niro bikin film ini epik, atau malah terasa berat dan kurang greget? REVIEW WISATA

Kekuatan Dual Role De Niro dan Atmosfer 1950-an dari Film Alto Knights: Review Film Alto Knights: De Niro Dual Role Epik?

Robert De Niro tampil luar biasa dalam dua peran berbeda. Sebagai Vito Genovese, ia bawa sosok dingin, ambisius, dan kejam—tatapan mata dan suara rendahnya bikin penonton merinding setiap kali muncul. Sebagai Frank Costello, De Niro lebih hangat, karismatik, tapi penuh paranoia—ia tunjukkan sisi rentan bos mafia yang mulai tua. Makeup dan prostetiknya sangat detail, tapi De Niro tak cuma andalkan penampilan fisik—ia bedakan karakter lewat gerak tubuh, cara bicara, dan emosi yang terasa berbeda. Ini jadi salah satu dual role terbaik De Niro sejak Heat (1995). Atmosfer New York 1950-an dibuat sangat meyakinkan. Lokasi syuting di Brooklyn dan Manhattan, kostum periode, dan sinematografi Dante Spinotti tangkap nuansa gelap era itu—lampu neon, asap rokok, dan mobil klasik terasa hidup. Musik Terence Blanchard bawa nuansa jazz noir yang pas, bikin setiap adegan terasa seperti film gangster klasik tapi tetap modern.

Cerita dan Pacing yang Solid tapi Lambat di Film Alto Knights: Review Film Alto Knights: De Niro Dual Role Epik?

Cerita berfokus pada perang kekuasaan antara Genovese dan Costello setelah pembunuhan Lucky Luciano. Konfliknya penuh pengkhianatan, politik mafia, dan pertarungan kekuasaan yang brutal. Adegan-adegan kunci seperti pertemuan di Alto Knights club dan upaya pembunuhan Costello jadi momen paling tegang. Tapi pacing film terasa lambat di babak tengah—terlalu banyak dialog politik dan backstory yang bikin ketegangan kadang turun. Beberapa penonton bilang cerita terlalu bergantung pada sejarah nyata tanpa cukup inovasi, sehingga terasa seperti dokumenter bergaya drama. Durasi 2 jam 19 menit terasa panjang karena kurangnya aksi besar—film ini lebih banyak bicara daripada tembak-menembak.

Performa Cast Pendukung dan Produksi

De Niro jadi bintang utama, tapi cast pendukung juga kuat. Debra Messing sebagai istri Costello beri performa emosional yang menyentuh, Cosmo Jarvis sebagai Vito muda dan Bobby Cannavale sebagai rival mafia tambah kedalaman. Produksi sangat rapi—set, kostum, dan detail periode terasa autentik tanpa terlalu berlebihan. Namun ada kritik kecil soal makeup De Niro yang kadang terlihat agak kaku di close-up, dan beberapa adegan transisi antara dua karakter terasa kurang mulus. Secara keseluruhan, film ini tetap jadi drama kriminal kelas atas yang bikin penonton dewasa terpikat.

Respon Penonton dan Dampak

Penonton Indonesia suka dengan tone dewasa dan performa De Niro—film ini laris di bioskop premium dan dapat rating tinggi dari penonton yang suka drama mafia. Box office US$185 juta (dengan proyeksi akhir US$250–300 juta) tunjukkan sukses moderat, terutama di pasar dewasa. Di media sosial, klip De Niro sebagai Genovese dan Costello jadi viral. Film ini juga bukti bahwa De Niro di usia 82 tahun masih bisa bawa peran ganda dengan kuat. Banyak yang bilang ini salah satu penampilan terbaiknya dalam dekade terakhir. Sekuel atau spin-off belum diumumkan, tapi film ini berhasil jadi penutup yang layak untuk era gangster klasik.

Kesimpulan

Alto Knights adalah film kriminal epik yang ditopang dual role Robert De Niro yang luar biasa. Atmosfer 1950-an mencekam, cerita pengkhianatan mafia penuh ketegangan, dan performa cast solid bikin film ini layak ditonton. Meski pacing lambat dan kurang inovatif, film ini tetap jadi tontonan berkualitas buat penggemar drama gangster. Worth it? Ya—terutama kalau kamu suka De Niro, mafia, dan cerita berbasis sejarah nyata. Nonton kalau belum—siapkan waktu dan konsentrasi, karena ini bukan film ringan. De Niro di dual role ini epik, dan filmnya terasa seperti penghormatan terakhir untuk genre gangster klasik. Layak dapat tempat di daftar tontonan dewasa tahun ini.

 

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *