Review Film Burning: Lee Chang-dong Bikin Gelisah. Burning (버닝) karya Lee Chang-dong yang rilis tahun 2018 tetap menjadi salah satu film Korea paling mengganggu dan sulit dilupakan hingga sekarang. Diadaptasi longgar dari cerpen pendek “Barn Burning” karya Haruki Murakami, film ini bukan horor konvensional, melainkan thriller psikologis lambat yang membangun rasa gelisah perlahan tapi pasti. Dengan rating 95% di Rotten Tomatoes (kritikus) dan 73% dari penonton, serta skor 7.5/10 di IMDb, Burning berhasil membawa penonton ke dalam ketidakpastian yang menyesakkan. Lee Chang-dong, yang dikenal dengan narasi emosional dan simbolisme kuat (Poetry, Secret Sunshine), kali ini membuat penonton terus bertanya-tanya: apa yang sebenarnya terjadi? Film ini bukan tentang jawaban, melainkan tentang rasa tidak nyaman yang bertahan lama setelah kredit bergulir. INFO SAHAM
Atmosfer dan Pembangunan Ketegangan yang Luar Biasa: Review Film Burning: Lee Chang-dong Bikin Gelisah
Cerita berpusat pada Jong-su (Yoo Ah-in), seorang pemuda miskin yang kehilangan pekerjaan dan bertemu kembali dengan Hae-mi (Jeon Jong-seo), teman masa kecil yang kini menjadi model paruh waktu. Hae-mi pergi ke Afrika selama beberapa bulan dan kembali bersama Ben (Steven Yeun), pria kaya misterius yang selalu tersenyum dingin. Dari sini, film berubah menjadi permainan psikologis penuh kecurigaan: Ben mengaku membakar gudang kosong sebagai hobi, tapi Jong-su mulai curiga bahwa “gudang” itu mungkin metafora untuk sesuatu yang lebih gelap. Lee Chang-dong membangun ketegangan dengan sangat perlahan. Tidak ada jump scare, tidak ada musik latar yang menjerit—hanya keheningan panjang, tatapan mata yang ambigu, dan dialog yang terasa penuh makna tersembunyi. Setiap adegan terasa seperti teka-teki yang tidak pernah selesai. Penonton diajak meragukan apa yang dilihat dan didengar—apakah Ben psikopat, apakah Hae-mi hilang karena sesuatu yang mengerikan, atau apakah Jong-su hanya paranoid karena rasa iri dan rendah diri?
Performa Aktor yang Mengguncang: Review Film Burning: Lee Chang-dong Bikin Gelisah
Yoo Ah-in sebagai Jong-su memberikan penampilan yang sangat dalam: dari pemuda polos yang bingung, menjadi pria yang dipenuhi kecurigaan dan kemarahan yang terpendam. Ekspresi wajahnya penuh konflik internal—marah, takut, dan rasa bersalah bercampur jadi satu. Steven Yeun sebagai Ben adalah casting sempurna: senyumnya yang tenang dan sopan justru membuatnya terasa sangat menyeramkan. Ia tidak pernah berteriak atau bertindak kasar—ketenangannya lah yang bikin merinding. Jeon Jong-seo sebagai Hae-mi membawa karakter yang rapuh tapi misterius—ia adalah pusat misteri yang membuat penonton terus bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi padanya. Ketiga aktor ini saling melengkapi dengan sangat baik—tidak ada yang berlebihan, tapi setiap tatapan dan jeda diam terasa sangat bermakna.
Visual, Sound, dan Teknik Sinematik
Sinematografi Hong Kyung-pyo sangat memukau: penggunaan cahaya senja yang panjang, bidang fokus dangkal, dan komposisi frame yang simetris membuat setiap adegan terasa seperti lukisan yang gelap dan penuh teka-teki. Warna dingin dan hijau mendominasi, menciptakan rasa asing dan tidak nyaman. Sound design dan scoring karya Lee Chang-dong sendiri (bersama Mowg) sangat minimalis tapi efektif: suara angin, deru mobil, dan musik latar yang hampir tidak terdengar membuat keheningan terasa lebih menakutkan daripada suara keras. Adegan ikonik seperti “gerakan tangan” Hae-mi di balkon, atau monolog Jong-su tentang gudang yang terbakar, masih jadi momen paling membekas dalam sinema Korea modern.
Warisan dan Mengapa Masih Relevan
Burning bukan film horor konvensional—ia adalah thriller psikologis yang mempertanyakan kelas sosial, rasa iri, dan ketidakpastian eksistensial. Film ini berhasil menggabungkan realisme sosial Korea dengan misteri yang ambigu, membuat penonton terus mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Sepuluh tahun kemudian, Burning masih sering masuk daftar “most unsettling movies ever” dan menjadi referensi utama ketika orang membahas horor psikologis yang cerdas dan atmosferik. Banyak penonton mengaku merasa gelisah berhari-hari setelah menonton karena endingnya yang terbuka dan tidak memberikan jawaban pasti.
Kesimpulan
Burning pantas disebut sebagai salah satu film paling mengganggu dan cerdas dari Korea Selatan. Dengan atmosfer mencekam, performa aktor luar biasa, misteri yang tak pernah benar-benar terjawab, dan kritik sosial yang tajam, film ini berhasil menciptakan pengalaman sinematik yang sulit dilupakan. Jika Anda mencari horor dengan jump scare atau hantu yang tiba-tiba muncul, mungkin akan kecewa. Tapi jika Anda siap merasa gelisah, meragukan apa yang dilihat, dan terus memikirkan film ini berhari-hari setelah selesai, Burning adalah pilihan tepat. Bagi penggemar sinema Korea, film ini wajib ditonton—dan bagi yang sudah menonton berkali-kali, setiap ulang tahun rilisnya tetap terasa seperti pukulan baru. Burning bukan sekadar film—ia adalah pengalaman psikologis yang meninggalkan bekas permanen. Layak ditonton sekali seumur hidup, tapi efeknya bertahan selamanya.