Review Film City of Angels. Film City of Angels (1998) tetap menjadi salah satu drama romansa fantasi yang paling sering dibicarakan ulang hingga kini, terutama di kalangan penonton yang menyukai cerita cinta dengan sentuhan filosofis dan emosional yang dalam. Disutradarai oleh Brad Silberling dan dibintangi Nicolas Cage serta Meg Ryan, film ini merupakan remake dari karya Jerman Wings of Desire (1987) karya Wim Wenders, namun dengan pendekatan yang lebih Hollywood dan lebih fokus pada romansa. Kisahnya berpusat pada seorang malaikat yang jatuh cinta pada seorang dokter manusia dan memilih meninggalkan keabadian demi merasakan cinta, rasa sakit, serta segala hal yang membuat hidup terasa nyata. Meski sudah berusia hampir tiga dekade, film ini masih relevan karena berhasil menggabungkan elemen fantasi, drama, dan pertanyaan eksistensial tentang arti menjadi manusia. Artikel ini akan meninjau kembali kekuatan serta kelemahan City of Angels sebagai karya yang masih layak ditonton ulang di era sekarang. BERITA OLAHRAGA
Narasi Romansa yang Sederhana tapi Menyentuh: Review Film City of Angels
City of Angels mengusung premis yang relatif sederhana: Seth (Nicolas Cage), seorang malaikat penjaga yang bertugas menemani jiwa-jiwa yang akan meninggal, jatuh cinta pada dokter bedah Maggie (Meg Ryan) setelah menyaksikan dedikasinya menyelamatkan pasien. Ketika Maggie mengalami kecelakaan dan berada di ambang kematian, Seth memilih menjadi manusia agar bisa bersama dengannya. Narasi ini tidak rumit, tapi kekuatannya justru terletak pada kesederhanaan itu sendiri.
Adegan-adegan romansa terasa tulus dan penuh kelembutan, terutama momen ketika Seth pertama kali merasakan sentuhan fisik setelah menjadi manusia—sebuah adegan yang sangat ikonik dan emosional. Film ini berhasil membuat penonton ikut merasakan keajaiban sekaligus kepedihan dari pilihan Seth: meninggalkan keabadian demi cinta yang fana. Chemistry antara Cage dan Ryan terasa alami, dengan Cage membawa sosok malaikat yang polos namun dalam, sementara Ryan memberikan Maggie sebagai dokter yang tegas tapi rapuh. Narasi yang linier dan tidak berbelit membuat film mudah diikuti, namun tetap meninggalkan ruang untuk refleksi tentang apa artinya merasakan hidup secara utuh—sakit, senang, dan segala hal di antaranya.
Sinematografi dan Musik yang Mendukung Emosi: Review Film City of Angels
Salah satu kekuatan terbesar film ini adalah sinematografi yang indah oleh John Seale. Penggunaan warna dingin dan cahaya lembut di adegan-adegan Los Angeles memberikan nuansa etereal yang sangat cocok dengan tema malaikat. Pemandangan kota dari ketinggian, pantai saat matahari terbenam, dan interior rumah sakit yang steril semuanya difoto dengan komposisi yang sangat hati-hati, menciptakan kontras antara dunia malaikat yang damai dan dunia manusia yang penuh kekacauan indah.
Musik karya Gabriel Yared juga memainkan peran besar. Soundtrack yang melankolis dan orkestrasi yang lembut memperkuat emosi di setiap adegan tanpa pernah terasa berlebihan. Lagu-lagu seperti “Iris” dari Goo Goo Dolls dan “Uninvited” dari Alanis Morissette yang menjadi bagian penting dari soundtrack era itu masih sering dikaitkan dengan film ini hingga kini. Kombinasi visual dan audio ini membuat penonton benar-benar terhanyut, terutama di adegan-adegan klimaks yang sangat emosional.
Kelemahan Naratif dan Dampak Emosional yang Bertahan
Meski sangat kuat secara visual dan emosional, City of Angels memiliki beberapa kelemahan yang terasa bagi penonton kritis. Beberapa dialog terasa terlalu puitis atau klise, terutama di bagian akhir ketika film berusaha memberikan penutup yang bittersweet. Karakter Maggie kadang terasa kurang berkembang dibanding Seth—ia lebih berfungsi sebagai objek cinta daripada karakter penuh dimensi. Selain itu, ending yang tragis bisa terasa terlalu manipulatif bagi sebagian penonton, meski bagi yang lain justru itulah yang membuat film ini begitu mengena.
Dampak emosional film ini tetap sangat kuat hingga hari ini. Banyak penonton yang menonton ulang film ini melaporkan masih menangis di adegan-adegan kunci, terutama ketika menyadari konsekuensi dari pilihan Seth. Film ini berhasil menyampaikan pesan bahwa menjadi manusia berarti menerima kerapuhan, rasa sakit, dan kematian sebagai bagian dari paket—dan bahwa cinta sejati kadang membutuhkan pengorbanan yang sangat besar. Pesan itu tetap relevan di era sekarang, ketika banyak orang merasa hidup terasa semakin cepat dan semakin sulit menemukan makna di tengah kebisingan.
Kesimpulan
City of Angels tetap menjadi salah satu film romansa fantasi terbaik yang pernah dibuat, terutama karena berhasil menggabungkan cerita cinta yang tulus dengan pertanyaan filosofis tentang arti menjadi manusia. Penampilan Nicolas Cage dan Meg Ryan yang kuat, sinematografi yang indah, musik yang menyentuh, serta narasi yang sederhana tapi dalam membuat film ini lebih dari sekadar tearjerker—ia adalah pengingat bahwa cinta sering kali paling indah justru karena rapuh dan sementara.
Di tahun 2026, ketika banyak film romansa modern lebih mengandalkan formula cepat atau visual mewah, City of Angels mengingatkan kita bahwa kekuatan sejati sebuah cerita cinta terletak pada kejujuran emosi dan keberanian untuk menunjukkan sisi paling rentan dari manusia. Bagi siapa pun yang belum pernah menonton atau ingin menonton ulang, film ini masih sangat layak—sebuah karya yang tidak hanya menghibur, tapi juga meninggalkan bekas yang lama di hati. Jika Anda mencari film yang membuat Anda merenung tentang cinta, pengorbanan, dan arti hidup, City of Angels adalah jawabannya.