Review Film Amour. Amour tetap menjadi salah satu karya sinematik paling jujur dan menyayat hati tentang cinta di usia senja serta dampak penyakit degeneratif terhadap hubungan panjang. Dirilis pada 2012, film ini berhasil memenangkan Palme d’Or di Cannes dan Oscar untuk Film Berbahasa Asing Terbaik, serta terus dianggap sebagai referensi utama ketika membahas penggambaran Alzheimer dan perawatan akhir hayat. Cerita berfokus pada Georges dan Anne, pasangan pensiunan musik berusia 80-an yang hidup tenang di apartemen Paris. Ketika Anne mengalami stroke yang memicu demensia progresif, Georges harus memutuskan bagaimana menjaga martabat istrinya sambil menghadapi realitas yang semakin berat. Film ini tidak menawarkan akhir bahagia yang dipaksakan, melainkan potret realistis tentang cinta yang tetap bertahan meski tubuh dan pikiran mulai menyerah. BERITA BOLA
Penampilan yang Menyentuh dan Autentik: Review Film Amour
Jean-Louis Trintignant dan Emmanuelle Riva memberikan penampilan yang luar biasa sebagai Georges dan Anne. Riva, yang saat itu berusia 85 tahun, memerankan Anne dengan kelembutan yang rapuh namun tetap penuh martabat. Transisi dari wanita elegan yang masih bisa bermain piano menjadi seseorang yang kehilangan kendali atas tubuh dan pikirannya terasa sangat alami—dari senyum malu saat lupa kata, hingga tatapan kosong yang perlahan mendominasi. Trintignant sebagai Georges menunjukkan perjuangan internal yang luar biasa: antara kasih sayang mendalam dan kelelahan fisik serta emosional yang tak terucapkan.
Interaksi mereka terasa seperti pasangan sungguhan yang sudah puluhan tahun bersama—ada kebiasaan kecil, nada bicara yang akrab, dan keheningan yang penuh makna. Tidak ada adegan dramatis berlebihan; justru momen-momen kecil seperti Georges membantu Anne minum atau menyisir rambutnya yang menjadi paling menghancurkan. Pendekatan sutradara Michael Haneke yang dingin dan observasional membuat penonton merasa seperti pengamat langsung di dalam apartemen, tanpa filter romantisasi.
Penggambaran Penyakit yang Sangat Realistis: Review Film Amour
Amour tidak pernah menjadikan Alzheimer sebagai alat drama semata. Film ini menunjukkan perkembangan penyakit secara bertahap dan tanpa kompromi: dari stroke pertama yang membuat Anne lumpuh sebelah, hingga kehilangan kemampuan bicara, menelan, dan akhirnya kesadaran. Setiap tahap digambarkan dengan detail klinis namun tetap manusiawi—cara Anne menolak makanan karena malu, bagaimana ia menangis diam-diam saat menyadari kondisinya, atau saat Georges harus mengganti popok istrinya yang dulu adalah wanita mandiri.
Film ini juga jujur tentang beban perawatan. Georges menolak bantuan rumah sakit atau perawat full-time karena ingin menjaga Anne di rumah, tapi penolakan itu perlahan menggerogoti kekuatannya sendiri. Tidak ada pahlawan sempurna di sini—ada rasa marah, keputusasaan, dan momen ketika Georges merasa terjebak. Penggambaran ini membuat penonton memahami mengapa banyak keluarga memilih perawatan di rumah meski tahu risikonya, dan mengapa keputusan akhir sering kali terasa tak terhindarkan.
Dampak Emosional dan Pesan yang Ditinggalkan
The Father dan Still Alice sering dibandingkan dengan Amour karena tema serupa, tapi Amour lebih dingin dan tanpa kompromi. Haneke tidak memberikan harapan palsu atau momen “pencerahan” yang menghibur. Film ini memaksa penonton menghadapi kenyataan bahwa cinta di usia senja bisa berakhir dengan penderitaan panjang, dan bahwa keputusan sulit sering kali adalah bentuk kasih sayang terakhir.
Pesan utamanya adalah tentang martabat dan komitmen. Georges memilih menjaga Anne di rumah bukan karena heroik, melainkan karena ia tidak bisa membayangkan hidup tanpa istrinya—meski itu berarti menghadapi realitas yang menghancurkan. Film ini juga mengajak penonton memikirkan pertanyaan besar: apa arti cinta ketika satu pihak tidak lagi mengenali yang lain? Dan bagaimana kita ingin diurus ketika saatnya tiba?
Kesimpulan
Amour adalah film yang sulit ditonton tapi mustahil dilupakan. Ia tidak menghibur dengan akhir bahagia, melainkan memberikan potret jujur tentang cinta yang bertahan hingga akhir hayat, meski akhir itu penuh penderitaan. Penampilan Trintignant dan Riva yang luar biasa, ditambah penyutradaraan Haneke yang presisi, membuat film ini menjadi salah satu karya terbaik tentang demensia dan perawatan akhir hayat. Di tengah dunia yang sering menghindari topik kematian dan penuaan, Amour berani menatap langsung—tanpa filter, tanpa romantisasi. Ia mengingatkan bahwa cinta sejati bukan tentang momen indah semata, melainkan tentang tetap ada saat semuanya mulai runtuh. Film ini bukan sekadar cerita sedih—ia adalah pengingat mendalam tentang martabat manusia di saat-saat terakhir, dan itulah yang membuatnya tetap relevan hingga sekarang.